• Jelajahi

    Copyright © TIMURPOS.COM| Mengabarkan Fakta
    Pembuat Website

    Iklan

    Follow us

    18 Tahun Menanti Air Bersih, 122 KK di Kampung Mawesday Sarmi Terpaksa Minum Air Hujan dan Kolam Kotor

    Sabtu, 27 Juni 2026, 11:12 WIB Last Updated 2026-06-27T03:12:52Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini

    SARMI PAPUA, TIMURPOS.COM – Sudah 18 tahun berlalu, namun harapan warga Kampung Mawesday, Distrik Bonggo Timur, Kabupaten Sarmi, Papua, untuk menikmati layanan air bersih belum juga terwujud. Hingga Sabtu (27/6/2026), sebanyak 122 kepala keluarga (KK) masih mengandalkan air hujan, kolam tergenang, dan sungai kecil untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.


    Warga menilai hak dasar mereka untuk memperoleh air bersih belum terpenuhi, meski berbagai usulan telah berulang kali disampaikan kepada Pemerintah Kabupaten Sarmi dan DPRD Kabupaten Sarmi sejak tahun 2007.

    Ironisnya, sejumlah sarana pendukung seperti selang, pipa, dan ratusan tong penampungan air telah tersedia melalui anggaran pemerintah. Namun, hingga kini fasilitas tersebut belum mampu mengalirkan air bersih ke permukiman warga.


    Kepala Kampung Mawesday, Silas Pilemon Singgum, mengaku prihatin dengan kondisi yang terus berlangsung selama hampir dua dekade tersebut.


    "Sudah berganti-ganti pemimpin kampung sejak tahun 2007, tetapi belum ada solusi yang benar-benar menghadirkan air bersih bagi 122 kepala keluarga. Peralatan memang ada, namun tidak berfungsi. Akibatnya, masyarakat masih mengonsumsi air yang tidak layak dan banyak yang mengalami gangguan kesehatan. Kami berharap pemerintah segera bertindak nyata," ujarnya.

    Hal senada disampaikan Sekretaris Kampung Mawesday, Maris Dase. Ia mengatakan pemerintah kampung telah berkali-kali menyampaikan aspirasi melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) maupun saat anggota DPRD melakukan reses.


    "Permohonan sudah berkali-kali kami sampaikan, tetapi hasilnya belum dirasakan masyarakat. Anak-anak, ibu hamil, hingga lansia masih mengonsumsi air hujan dan air kolam yang kualitasnya tidak terjamin. Kami berharap pemerintah memperlakukan warga Mawesday sama seperti warga lainnya yang berhak mendapatkan pelayanan dasar," katanya.


    Sementara itu, warga Kampung Mawesday, Yuda Yehezkiel Maryau, mengungkapkan persoalan air bersih telah menjadi keluhan turun-temurun.


    "Setiap ada kunjungan, yang dilihat hanya pipa dan tong air, tetapi persoalan utamanya tidak pernah selesai. Saat musim kemarau kami harus mengantre lama bahkan berjalan cukup jauh mengambil air dari sungai kecil. Kami berharap fasilitas yang sudah dibangun benar-benar bisa dimanfaatkan masyarakat," ungkapnya.


    Selain menyulitkan aktivitas sehari-hari, keterbatasan akses air bersih juga disebut berdampak pada kesehatan masyarakat. Warga mengaku kasus diare, penyakit kulit, hingga demam tifoid masih kerap terjadi dan diduga berkaitan dengan penggunaan air yang tidak memenuhi standar kesehatan.


    Melalui pemberitaan ini, masyarakat Kampung Mawesday kembali meminta perhatian Pemerintah Kabupaten Sarmi, DPRD Kabupaten Sarmi, Dinas Kesehatan, serta Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang agar segera menuntaskan persoalan penyediaan air bersih.


    Warga berharap sebelum 31 Desember 2026, layanan air bersih yang layak sudah dapat dinikmati oleh seluruh 122 kepala keluarga di Kampung Mawesday. Mereka menilai pemenuhan kebutuhan air bersih merupakan bagian dari pelayanan dasar yang menjadi tanggung jawab pemerintah kepada seluruh masyarakat.


    Editor: Rosmawati

    Reporter: Fadli Ponomban, S.Th

    Sumber: Kepala Kampung Mawesday Silas Pilemon Singgum, Sekretaris Kampung Mawesday Maris Dase, dan warga Kampung Mawesday Yuda Yehezkiel Maryau.

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    Nasional

    +