• Jelajahi

    Copyright © TIMURPOS.COM| Mengabarkan Fakta
    Pembuat Website

    Iklan

    Follow us

    Kedok Paspor Wisata ke Malaysia: Korban TPPO Asal Bulukumba Dipulangkan dalam Kondisi Sakit Parah

    Selasa, 30 Juni 2026, 09:41 WIB Last Updated 2026-06-30T01:41:37Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini

    BULUKUMBA, TIMUR POS.COM – Sekretaris DPK Lentera Independen Pemerhati Aspirasi Nusantara (LIPAN) Bulukumba, Rakhmat, membeberkan kronologi dan modus baru dugaan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) yang menjerat warga lokal. Korban diduga dijebak secara halus melalui sindikat terorganisir dengan kedok pengurusan dokumen perjalanan menuju Miri, Serawak, Malaysia.


    Ironisnya, untuk sebuah E-Paspor Biometrik baru yang seharusnya memiliki tarif resmi terjangkau dari pemerintah, korban dipaksa merogoh kocek atau dibebani utang fantastis hingga mencapai Rp 17.000.000 oleh sang cukong yang berinisial Cuandin di Palimassan, Kabupaten Bulukumba.


    Modus Paspor "Pelawak" (Jalan-Jalan) untuk Sektor Perkebunan


    Rakhmat mengungkapkan bahwa E-Paspor yang diurus oleh jaringan ini sebenarnya bukan diperuntukkan untuk bekerja, melainkan paspor kunjungan atau wisata (istilah setempat: paspor pelawak/jalan-jalan). Modus awalnya, korban diiming-imingi keberangkatan dengan alasan ingin menemui suaminya di Malaysia. Namun sesampainya di Serawak, pemilik E-Paspor tersebut justru dipekerjakan secara ilegal di sebuah ladang kelapa sawit.


    Jaringan ini diduga kuat melibatkan lintas wilayah dan negara. Berdasarkan hasil investigasi LIPAN Bulukumba, seorang perempuan berinisial T yang berada di Serawak, Malaysia, diduga terlibat aktif dalam mengatur pemberangkatan serta memfasilitasi pengurusan E-Paspor korban di Palopo.


    Kasus Terbongkar Setelah Korban Telantar dan Sakit Parah


    Praktik eksploitasi kemanusiaan ini akhirnya terbongkar setelah sepasang suami istri bernama Saidar dan Lela dipulangkan ke kampung halaman. Tragisnya, keduanya dipulangkan dalam kondisi sakit parah setelah mengalami tekanan kerja di perkebunan tersebut.


    Hingga berita ini diturunkan, pasutri korban TPPO tersebut dilaporkan tidak mendapatkan kompensasi atau pertanggungjawaban sepeser pun dari pihak perusahaan tempat mereka bekerja maupun dari pihak agensi yang memberangkatkan mereka.


    Pihak LIPAN Bulukumba mendesak aparat penegak hukum (APH) untuk segera bergerak cepat menangkap cukong Cuandin di Bulukumba serta berkoordinasi dengan pihak terkait untuk mengusut jaringan perempuan berinisial T yang berada di Malaysia.


    Editor: Bang Jul

    Reporter: Rosma/Tri Indra

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    Nasional

    +