• Jelajahi

    Copyright © TIMURPOS.COM| Mengabarkan Fakta
    Pembuat Website

    Iklan

    Follow us

    Jangan Tukar Warisan Leluhur dengan Kenikmatan Sesaat! Pesan Tegas Salia Gwijangge untuk Pemuda Papua

    Sabtu, 18 Juli 2026, 08:24 WIB Last Updated 2026-07-18T00:26:48Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini

    Jangan Tukar Warisan Leluhur dengan Kenikmatan Sesaat! 


    SARMI PAPUA TIMURPOS.COM – Di tengah arus modernisasi yang tak terbendung, sebuah paradoks yang masih terjadi di tanah Papua. Sementara orang luar berlomba-lomba mengakuisisi aset strategis demi masa depan, sebagian putra daerah justru tega melepaskan hak ulayat demi kepuasan suatu saat. Fenomena ini bukan sekadar masalah ekonomi, melainkan krisis identitas dan hilangnya visi jangka panjang. Menyikapi hal ini, tokoh pendidik dan inspirator Papua, Salia Gwijangge, S.Pdk., M.Pd, turun tangan memberikan "tamparan" kesadaran melalui narasi yang menohok namun penuh kasih sayang seorang guru, Sabtu ( 18 July 2026 ).


    Ujarnya, kalimat "Orang luar jual minuman untuk beli tanah, orang asli jual tanah untuk beli minuman" bukanlah sebuah cerminan, melainkan cermin pahit yang harus segera dibenahi. Ini adalah alarm bahaya bagi keberlangsungan peradaban Papua di masa depan. Berikut adalah 9 poin Arah tegas dan edukatif khusus untuk muda-mudi setanah Papua


    Pertama, Sadarilah bahwa tanah di Papua bukan sekedar komoditas ekonomi yang bisa menjamin kebebasan, melainkan darah daging leluhur, makam nenek nenek nenek moyang, dan jaminan hidup bagi anak cucu yang belum lahir. Menjual tanah sama dengan memutus tali pusar sejarah dan masa depan keturunan sendiri


    Kedua, Pahami perbedaan mendasar antara “kebutuhan” dan “keinginan”. Minuman keras atau gaya hidup hedonis hanyalah keinginan sesaat yang habis dalam hitungan jam, sedangkan tanah adalah kebutuhan abadi yang nilainya akan terus meningkat seiring berjalannya waktu. Jangan menukar yang permanen dengan yang fana


    Ketiga, Belajarlah dari ketajaman visi orang luar atau pendatang yang datang ke Papua. Mereka bekerja keras, menabung, dan berinvestasi membeli tanah karena mereka melihat potensi masa depan. Jika tuan rumah malah menjual asetnya kepada tamu, maka kelak tuan rumah akan menjadi penonton di tanah sendiri


    Keempat, Jadikan pendidikan sebagai alat perjuangan, bukan sekadar gelar. Sebagai pemuda Papua, gunakan ilmu pengetahuan untuk mengelola sumber daya alam secara mandiri,而不是 (bukan) menjualnya mentah-mentah. Orang cerdas tidak menjual induk ayam, melainkan menjual telurnya


    Kelima, Bangun mentalitas “Pemilik”, bukan mentalitas “Penjual”. Mentalitas pemilik berpikir tentang konservasi, pengembangan, dan warisan. Mentalitas penjual hanya berpikir tentang uang tunai instan. Pergeseran pola pikir inilah yang harus dimulai dari diri setiap pemuda Papua hari ini


    Keenam, Jaga martabat melalui penguasaan lahan. Tanah adalah pemandangan. Ketika kepemilikan tanah beralih ke pihak lain secara masif, maka otonomi dan harga diri sebagai bangsa asli perlahan akan tergerus. Bertindak nyatalah dengan mempertahankan apa yang sudah dianugerahkan Tuhan


    Ketujuh, Lawan godaan gaya hidup instan dengan produktivitas. Daripada menghabiskan waktu dan uang di tempat hiburan, salurkan energi muda untuk berkarya, berwirausaha, dan mengolah potensi lokal. Keberhasilan sejati diraih dengan keringat sendiri, bukan dengan warisan yang dijual murah


    Kedelapan, Ingatlah pesan moral para tetua dan tokoh seperti Salia Gwijangge. Mereka mengingatkan bukan karena membenci kemajuan, tetapi karena cinta yang mendalam agar Papua tidak kehilangan jati dirinya. Dengarkan nasihat mereka sebagai kompas navigasi di era globalisasi


    Kesembilan, Tanamkan dalam hati bahwa kekayaan sejati Papua ada pada keutuhan dan tanahnya. Generasi muda adalah garda terdepan pertahanan ini. Jika kalian rapuh terhadap rayuan material suatu saat, maka benteng terakhir Papua akan runtuh oleh tangan kalian sendiri


    Pernyataan Penutup & Dorongan

    Mari bangkit bersama membangun nilai, menjaga tanah, dan melestarikan budaya demi masa depan Papua yang berkelanjutan. Jangan biarkan sejarah mencatat bahwa kita adalah generasi yang menghancurkan warisannya sendiri


    Sebagai penutupnya, ada pepatah Cina yang sangat relevan: "Waktu terbaik untuk menanam pohon adalah dua puluh tahun yang lalu. Waktu terbaik kedua adalah sekarang." (Waktu terbaik untuk menanam pohon adalah 20 tahun yang lalu. Waktu terbaik kedua adalah sekarang.)


    Maka, dimulailah “menanam” kesadaran menjaga tanah dan membangun karakter mulai detik ini juga. Jangan tunggu sampai semuanya terlambat. Berpikir cerdas, bertindak nyata, dan melakukan这一切 (semua ini) Untuk Papua!



    Editor: Farli Ponomban S.Th

    Sumber : Saliga Gwijangge, S.Pdk., M.Pd

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini