Iklan

Follow us

Menempatkan Membara sebagai Energi Bersama

Timur Pos
Jumat, 06 Februari 2026, 07:54 WIB Last Updated 2026-02-05T23:54:23Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini

Fariz Maulana Akbar, Direktur Jaringan Rakyat untuk Demokrasi Sehat dan Bermartabat

SANGIHE, TIMURPOS. COM
- William Shakespeare pernah melontarkan pertanyaan yang terdengar ringan, tetapi kerap membuat pemegang kuasa berhenti sejenak: “What’s in a name?” Apa arti sebuah nama?


Pertanyaan ini kembali relevan ketika penamaan GOR Membara ramai diperdebatkan. Kata “Membara” dipersoalkan bukan karena maknanya, melainkan karena pernah hadir sebagai tagline kampanye politik di Pilkada lalu. Seolah-olah sebuah gedung olahraga bisa menyimpan residu pilkada, lalu diam-diam bekerja sebagai alat politik yang menyamar.


Padahal, jika ditarik ke konteks yang lebih jernih, nama adalah bagian paling jinak dari kebijakan publik. Ia tidak mengelola anggaran, tidak membuat program, dan tidak menentukan kualitas pelayanan.


Membara sebagai Energi Bersama


Dalam kajian simbol politik, Murray Edelman menjelaskan bahwa simbol bersifat cair dan kontekstual. Ia tidak terikat selamanya pada momen kelahirannya. Setelah kontestasi Pilkada usai dan kepemimpinan memperoleh legitimasi demokratis, bahasa kampanye berhenti menjadi alat perebutan suara dan beralih menjadi narasi kepemimpinan.


“Membara” hari ini tidak sedang berkampanye. Ia tidak mengajak Anda untuk memilih calon A, B atau C. Ia tidak memuat nomor urut, dan bahkan ia tidak mengenakan atribut partai. Membara hanyalah kata dengan makna yang sah secara bahasa yaitu menyala, bersemangat, penuh energi. Dalam konteks gelanggang olahraga, makna itu bahkan terasa relevan, layak, cocok dan sesuai.


Karena itu, menempatkan “Membara” sebagai nama GOR seharusnya dipahami sebagai energi bersama, bukan simbol eksklusif siapa pun.


Energi Bersama Itu Menuntut Tanggung Jawab


Namun di sinilah bagian pentingnya dan sering kali paling dihindari.

Menerima nama tidak sama dengan menurunkan daya kritis. Justru ketika simbol diterima dengan tenang, kinerja harus diuji dengan lebih keras. Elit yang percaya diri tidak akan sibuk membela simbol, karena mereka tahu bahwa simbol tidak bisa menyelamatkan kinerja yang buruk.


Shakespeare mengingatkan kita bahwa esensi selalu lebih kejam daripada label. Nama boleh menyala, tetapi publik akan cepat merasakan jika pengelolaannya dingin. Gedung olahraga dengan nama seheroik apa pun akan kehilangan wibawa bila aktivitasnya hidup hanya saat gunting pita peresmian, pengelolaannya asal-asalan, tak ada sistem manajemen,

dan pemeliharaannya menunggu rusak dulu baru diperbaiki.


Di titik ini, publik patut bertanya dengan sopan tapi tajam. Apakah “Membara” benar-benar hadir dalam kerja sehari-hari Pemda, atau hanya hangat di papan nama?


Elit Juga Perlu Paham


Nama “Membara” sejatinya bukan pujian, melainkan tantangan simbolik. Ia menetapkan standar. Dan standar publik, seperti biasa, tidak bisa dinegosiasikan dengan seremoni.


Jika semangat benar-benar membara, publik tentu berharap melihatnya dalam anggaran pemeliharaan yang konsisten, bukan reaktif, program olahraga yang berkelanjutan, bukan musiman, keterbukaan pada evaluasi, bukan alergi kritik,

dan keberanian Pemda untuk diuji, bukan sekadar dipuji.


Tanpa itu, “Membara” berisiko menjadi metafora klasik birokrasi kita, yang panas di awal, nyaman di tengah, dan dingin di akhir. Api besar di nama, tapi api kecil di kebijakan.


Pedas semacam ini bukan untuk merendahkan, melainkan mengingatkan. Karena elit yang matang justru akan merasa dihormati ketika publik cukup peduli untuk mengkritik dengan cara yang cerdas.


Kritik Berkualitas Itu Mahal, Tak Semua Pihak Mampu Membayarnya

Ribut soal nama itu murah dan cepat. Mengawal kinerja itu mahal dan melelahkan. Publik yang memilih jalur kedua sejatinya sedang menunjukkan kedewasaan demokrasi.


Dalam demokrasi, kritik bukan ancaman, melainkan bentuk penghargaan tertinggi. Hanya kekuasaan yang dianggap penting yang layak diawasi dengan serius. Yang diabaikan justru biasanya yang sudah tidak diharapkan.


Maka ketika publik bersikap kritis, Pemda seharusnya merasa dipercaya bukan diserang.


Nama “Membara” sudah berada di tempat yang wajar sebagai simbol semangat ruang publik. Soal itu, tak perlu diperdebatkan, malah buang energi dan kontraproduktif. Tantangan sesungguhnya ada setelahnya. Apakah semangat "Membara" itu benar-benar ada dalam kerja nyata Pemda.


Seperti kata Shakespeare, nama hanyalah bunyi. Nilainya ditentukan oleh apa yang mengikutinya. Menempatkan “Membara” sebagai energi bersama berarti menjadikannya milik semua sekaligus menjadikannya janji publik yang pantas terus ditagih, dengan kepala dingin dan nalar yang juga membara.







Editor : Alfrets Maurits 

Reporter : FMA



Komentar

Tampilkan

Terkini