SARMI PAPUA, TIMURPOS . COM - Panasnya terik matahari siang menggantung di Jalan beraspal Trans Bonggo Timur Sarmi Papua , tepatnya di Kampung Tamar Sari SP 5, Distrik Bonggo, Kabupaten Sarmi, ketika seorang remaja bernama Shohibi yang akrab disapa Shaib duduk termenung di bangku plastik lapaknya yang berdiri berdempetan dengan Toko Slamet Jaya, menatap jalanan berdebu yang jarang sekali dilewati anak-anak yang dulu ia kira anak-anak akan menjadi pelanggan setianya. Lapak sewa mainan remote konstruksi itu ia buka dengan modal ala kadarnya di kisaran jutaan rupiah, berbekal pengamatan dari media sosial dan optimisme bahwa menyewakan tiga unit mainan dengan tarif Rp10.000 per 30 menit akan menjadi celah ekonomi baru di pedesaan perbatasan yang akses hiburannya terbatas, Sabtu ( 20/6/2026 ).
*RC Tambang yg rame di kota namun sepi didesa:*
1. *Excavator 1:14 Hidrolik Metal* - Huina 580/Kabolite 3363. Bisa gali tanah beneran, paling viral
2. *Dump Truck 6x6* - Bak naik-turun, muat 2-3kg. Main bareng excavator
3. *Loader/Bulldozer* - Buat dorong & ratain pasir
*Kenapa rame*: Bisa main di taman/CFD, satisfying karena banyak komunitas RC Construction.
Dari tiga unit yang ia miliki, 1 unit berisi 3 mobil remote konstruksi yang sengaja ia pilih karena bentuknya dianggap lebih menarik bagi anak-anak dan remaja, namun realitas tiga bulan terakhir memaksa Shaib menelan kenyataan pahit bahwa minat pasar di Tamar Sari tidak berjalan linear dengan idenya.* Mesin-mesin kecil itu lebih sering terparkir diam, baterainya habis karena menunggu daripada karena digunakan, sementara Shaib menghitung ulang setiap hari apakah pendapatan cukup untuk mengganti aki yang drop atau sekadar membeli bensin untuk pulang. Beban cicilan dan perawatan tetap berjalan meski omzet tidak ada dan itu membuat setiap sore terasa lebih berat dari sebelumnya
Perekonomian sekarang lagi lesu,” ujar Shaib singkat, namun kalimat itu memuat seluruh narasi kesulitan yang sedang dihadapi warga desa di ujung timur Indonesia ini, di mana daya beli rumah tangga anjlok seiring harga kebutuhan pokok yang fluktuatif dan hasil kebun yang tidak selalu bisa diandalkan sebagai sumber kas harian.* Ketika uang tunai di tangan warga menipis, pos pengeluaran untuk hiburan seperti sewa mainan kontruksi mobil remote menjadi yang pertama dicoret dari daftar prioritas, sehingga lapak Shaib yang dulunya ia bayangkan ramai kini justru menjadi cermin sunyi dari tekanan ekonomi makro yang merembes sampai ke SP 5.
Omzet harian Shaib tidak memiliki pola yang bisa diprediksi, kadang kotak uangnya terisi Rp50.000 jika ada dari dua tiga anak yang mampir, kadang benar-benar zonk kebanyakan zonk sampai berhari-hari tanpa satu pun penyewa yang datang dari pagi hingga lampu Toko Slamet Jaya mulai dinyalakan pemiliknya.* Ketidakpastian itu menggerus mentalnya perlahan, karena ia harus tetap membayar waktu, tenaga, dan harapan yang ia investasikan setiap hari, sementara hasilnya tidak bisa menjamin kebutuhan dasar tiga orang yang menggantungkan hidup pada usaha kecil ini. Rasa putus asa datang silih berganti, tetapi ia menahannya dengan keyakinan bahwa menyerah sekarang berarti mematikan usaha yang ia bangun sendiri dari nol.
Alternatif pekerjaan di Bonggo memang terbatas, dan Shaib sadar betul bahwa memilih bertahan dengan sewa mainan adalah pilihan yang lebih masuk akal dibanding mencari kerja formal yang jumlahnya bisa dihitung jari di wilayah perbatasan.* Ia belajar memperbaiki sendiri remote yang rusak, men-charge baterai dengan listrik rumah, dan bernegosiasi dengan pemasok suku cadang dari Jayapura agar biaya tidak membengkak. Semua dilakukan agar roda usaha ini tetap berputar, meski pelan, meski sering terhenti.
Di tengah lesunya ekonomi desa, Shaib tetap membuka lapaknya setiap hari dengan harapan yang sederhana namun gigih: ada anak-anak yang berlari menghampirinya, ada tawa yang pecah ketika mobil remote berhasil menaiki gundukan tanah, dan ada rezeki kecil yang cukup untuk makan malam.* Ia paham betul usaha mikro di wilayah seperti Tamar Sari Bonggo SP 5 sangat rentan terhadap guncangan eksternal, mulai dari harga BBM, cuaca, hingga daya beli warga yang naik-turun tanpa kepastian. Namun baginya, bertahan adalah bentuk perlawanan paling realistis.
Harapan Shaib tidak muluk-muluk, ia hanya ingin usaha kecilnya kembali dilirik, kembali diminati, dan kembali memberi kepastian bagi dirinya serta orang-orang yang bekerja bersamanya.* “Kadang dapat, kadang tidak” sudah ia terima sebagai ritme hidup, namun ia tetap menatap jalanan SP 5 setiap pagi, menanti giliran ekonomi desa kembali bergerak. Bagi Shaib, satu pelanggan yang datang hari ini adalah bukti bahwa mimpi di ujung Papua ini belum mati.
Kisah Shaib ini sebenarnya cermin banyak UMKM di daerah . Modal kecil, ide dari media sosial, eksekusi mandiri, tapi mentok di daya beli lokal yang lagi lesu. Yang paling berat bukan cuma omzet zonk, tapi mental: buka lapak tiap hari sambil nahan rasa putus asa.
#UMKMPapua #SarmiBisa, semoga bisa narik pelanggan dari luar SP 5 yang kangen akan kampung.
Shaib sudah melakukan pekerjaan namun tak sesuai harapannya berharap ada pelanggan sesuai harapannya baik anak remaja ataupun pencinta traktor kontruksi remote control Tinggal nunggu momentum ekonomi desa berputar
Penulis : Y T Soemardi
Editor : Alfrets Maurits


