![]() |
| Suasana Ibadah Ikatan Keluarga Besar ( BINSASURA ) |
SARMI PAPUA TIMURPOS.COM - Suasana kekeluargaan dan Penuh Sukacita melingkupi berlangsungnya Persekutuan Ibadah Ikatan Kerukunan Keluarga Besar BINSASURA yang menyatukan perwakilan dari Biak Numfor, Sarmi, Supiori, hingga Raja Ampat. Dalam kebersamaan yang penuh hikmat ini, Seluruh Anggota BINSASURA menyusun Firman Tuhan yang diambil dari Kitab Amsal 4:1-27, dengan mengusung tema besar: “Hikmat dari Allah yang diwariskan dari generasi ke generasi”. Momen ruang ini menjadi istimewa untuk kembali mengingat nilai-nilai luhur yang ditinggalkan leluhur, serta mempertegas komitmen melestarikan hikmat ilahi bagi anak cucu mendatang,
Penulis Kitab Amsal adalah Salomo, putra dari Raja Daud dan istrinya Batsyeba, Salomo Raja ke III Yang penuh dengan Hikmat dan Kecerdasan dari Allah, Mewujudkan Kitab amsal ini, Dengan Harapan Bahwa Kitab Amsal Dijadikan Sebagai Landasan dan Warisan Untuk Generasinya Pada Waktu itu dan Tentu Selanjutnya Menjadi Kekayaan dan Warisan Turun Temurun Hingga Kini!
Biasanya orang tua, baik ayah maupun ibu, selalu memberikan didikan dan nasihat terbaik kepada anak-anaknya. Demikian pula Salomo menerima bimbingan berharga dari ayah dan ibu, dan dari pengalaman hidup itulah ia kemudian menulis Kitab Amsal pasal 4. Tulisan ini disusun guna menjadi penuntun yang setia bagi generasinya sendiri hingga ke generasi-generasi yang akan datang. Hal tersebut disampaikan oleh salah satu anggota Ikatan Keluarga Besar BINSASURA ( Pdt. Yesaya Adadikam S.Pd )
Hal ini sejalan dengan tema besar yang diusung oleh Sinode Gereja Kristen Injili (GKI), yang menegaskan bahwa hikmat yang bersumber dari Allah wajib diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Tak dapat dipungkiri, pengaruh ajaran dalam Kitab Amsal telah memberikan bukti nyata yang kita rasakan hingga hari ini. Persekutuan keluarga besar ( BINSASURA ) ini dapat berjalan harmonis dan berkumpul dengan penuh damai bukan kebetulan semata, melainkan buah dari didikan orang tua terdahulu, serta merupakan dampak nyata pesan yang dituliskan khusus oleh Salomo
Berdasarkan penjelasan ayat satu hingga sembilan, ditegaskan bahwa segala hal yang baik wajib terus diwariskan dari generasi ke generasi, karena hal-hal mulia tersebut adalah bagian dari hikmat dan perbuatan dahsyat yang bersumber langsung dari Allah Sang Pencipta.
Dalam ayat sepuluh hingga dua belas, dijelaskan pula bagaimana setiap orang percaya patut memiliki hikmat dalam menentukan langkah di mana pun berada. Pesan ini pun terasa sangat dekat bagi kami semua, termasuk saudara dan penulis yang kini hidup sebagai perantau di wilayah Bonggo-Bonggo Timur, Kabupaten Sarmi
Melalui ayat dua puluh hingga dua puluh tiga, Salomo menekankan dengan sungguh-sungguh agar kita selalu menjaga hati dengan sepenuh kesungguhan. Sebab hati adalah pusat dari seluruh kehidupan, serta tempat bermulanya setiap keputusan tepat yang kita ambil
Selanjutnya, pada ayat dua puluh empat hingga dua puluh tujuh, ditegaskan bahwa hikmat yang sejati hanya bersumber dari Tuhan. Oleh karena itu, sebagai orang percaya kita wajib menjadi berkat dan teladan yang baik, khususnya melalui persekutuan keluarga besar ( BINSASURA ) yang kini menetap di wilayah Bonggo-Bonggo Timur, Kabupaten Sarmi. Penjelasan mendalam ini disampaikan Secara Tegas oleh (Pdt. Elisabeth Rabrageri S.Th)
Hikmat bukanlah harta yang bisa habis dimakan atau rusak pada waktu dimakan, melainkan cahaya yang akan semakin terang jika diteruskan dengan setia. Apa yang kita terima dari orang tua dan leluhur, hendaknya tidak berhenti di tangan kita, melainkan kita jaga, kita hidupi, dan kita sampaikan dengan lebih baik lagi kepada anak cucu nanti. Jagalah hatimu, luruskan langkahmu, dan biarlah persekutuan ini senantiasa menjadi saluran berkat, agar nama Tuhan dimuliakan dan kasih persaudaraan tetap menyala abadi.
Editor : Farli Ponomban S.Th
Reporter : Farli Ponomban S.Th
