
"Budaya Ku Adalah Hidup Ku"
"My Culture Is My Life"
SENTANI JAYAPURA TIMURPOS.COM – Di atas permukaan air Danau Sentani yang tenang, tersimpan bukan hanya keindahan alam ciptaan Tuhan, tetapi juga napas kehidupan leluhur yang tak pernah padam. Air danau ini adalah saksi bisu sejarah, tempat di mana roh para pendahulu bersemayam dalam setiap dayung perahu dan setiap butir sagu yang dipanen. Festival Danau Sentani (FDS) ke-XV hadir bukan sekadar sebagai tontonan hiburan, melainkan sebagai ziarah spiritual untuk mengingat kembali siapa kita sesungguhnya. Tema "Budaya Ku Adalah Hidup Ku" mengingatkan kita bahwa identitas bukanlah baju yang bisa dilepas, melainkan darah yang mengalir dalam veins kita. Ketika budaya mati, maka jiwa sebuah bangsa pun ikut layu. Oleh karena itu, mari kita sambut festival ini dengan hati yang bersih dan rasa syukur kepada Sang Pencipta atas warisan alam dan budaya yang luar biasa ini, Sabtu ( 18 July 2026 ).
Acara ini diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Jayapura bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata Republik Indonesia. Event ini mendapat dukungan penuh dari tokoh-tokoh nasional dan daerah, termasuk Gibran Raka Buming Raka (Wakil Presiden RI), Widiyanti Putri Wardana (Menteri Pariwisata RI), Dr. Yunus Wonda, S.H., M.H. (Bupati Jayapura), serta Haris Yocku, S.H. (Wakil Bupati Jayapura). Kehadiran mereka menegaskan komitmen negara dalam melestarikan khazanah budaya Papua
Ini adalah Festival Danau Sentani (FDS) ke-XV, sebuah perayaan budaya tahunan yang menampilkan kekayaan tradisi masyarakat sekitar danau. Atraksi utamanya sangat memukau dan sarat makna:
- Atraksi Isosolo: Tarian sakral yang dilakukan di atas perahu yang bergoyang di atas air.
- Atraksi Menyelam: Keahlian menangkap ikan sambil merokok di dalam air, simbol harmoni manusia dengan alam bawah air.
- Prosesi Sagu: Mulai dari panen ulat sagu, tokok sagu tradisional, hingga demo pembuatan Hiloy (garpu kayu Sentani) yang menunjukkan ketahanan pangan lokal.
- Tour Wisata Danau Sentani: Menjelajahi keindahan danau dengan perahu wisata
Pusat kegiatan berlokasi di Pantai Khalkote, Distrik Sentani Timur. Lokasi ini dipilih karena merupakan representasi langsung dari kehidupan masyarakat pesisir Danau Sentani, di mana pengunjung bisa merasakan deburan ombak dan angin danau secara langsung
Festival ini akan berlangsung selama lebih dari dua minggu, tepatnya mulai 20 Agustus hingga 05 September 2026. Rentang waktu ini memberikan kesempatan luas bagi wisatawan domestik maupun mancanegara untuk安排行程 (mengatur jadwal) kunjungan mereka
Tema ini diangkat sebagai respons terhadap arus globalisasi yang mengikis identitas lokal. Bagi masyarakat Sentani, budaya bukan museum mati, melainkan cara hidup sehari-hari—dari cara makan sagu hingga cara berinteraksi dengan danau. FDS ke-XV bertujuan untuk melestarikan budaya, membangun pariwisata, dan menyatukan kita semua, sebagaimana tagline yang tertera pada poster. Ini adalah afirmasi bahwa menjadi modern tidak harus meninggalkan akar tradisi
Pengunjung dapat datang langsung ke Pantai Khalkote, Sentani Timur. Pemerintah Kabupaten Jayapura telah menyiapkan infrastruktur dan keamanan untuk menyambut ribuan wisatawan. Selain menonton atraksi, pengunjung diajak untuk berpartisipasi aktif dalam tour wisata dan merasakan langsung proses pembuatan kerajinan tangan seperti Hiloy. Media sosial resmi Pemkab Jayapura (@pemkabjayapura) menyediakan informasi terkini seputar jadwal detail harian
Closing Statement
Danau Sentani adalah anugerah Ilahi yang titipkan kepada kita untuk dijaga, bukan untuk dieksploitasi habis-habisan. Mari kita jadikan FDS ke-XV ini sebagai momen pertobatan budaya; saatnya kita berhenti malu dengan tradisi sendiri dan mulai bangga memakainya. Ingatlah, pohon yang tinggi pasti memiliki akar yang kuat. Jika akar budaya kita dicabut demi gaya hidup semu, maka kita akan tumbang diterpa badai zaman. Datanglah ke Sentani, bukan hanya untuk melihat, tapi untuk merasakan denyut nadi Papua yang sesungguhnya. Saksikan dan ramaikan, karena kehadiran Anda adalah bagian dari pelestarian warisan abadi ini!
Lake Sentani is a divine gift entrusted to us to protect, not to exploit endlessly. Let us make the 15th FDS a moment of cultural repentance; it is time we stop being ashamed of our own traditions and start proudly embracing them. Remember, a tall tree must have strong roots. If our cultural roots are pulled out for the sake of a superficial lifestyle, we will collapse in the storm of time. Come to Sentani, not just to see, but to feel the true pulse of Papua. Witness and enliven the event, because your presence is part of preserving this eternal heritage!
Editor : Farli Ponomban S.Th
Reporter : Kristopel Tabisu