Iklan

Follow us

Haji Umar Kei sosok anak muda yang intens mengkampayekan perdamaian.

Timur Pos
Minggu, 18 Januari 2026, 15:33 WIB Last Updated 2026-01-18T07:47:19Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini


 JAKARTA, TIMURPOS. COM - Tokoh muda nasional asal Indonesia timur, yang juga Ketua Umum DPP Front Pemuda Muslim Maluku (FPMM) Haji Umar Kei Ohoitenan, S.H, menginisiasi rekonsiliasi kelompok pemuda Kaililo, Kei, dan Seram Bagian Timur (SBT) yang beberapa waktu lalu bertikai.


Dialog bertajuk "Duduk Bacarita Meretas Jalan Menuju Perdamaian" ini dihadiri sejumlah tokoh pemuda, tokoh agama, Raja Negeri Kailolo serta beberapa raja dari Kei dan Seram Bagian Timur.


Kegiatan rekonsiliasi dan dialog "Duduk Bacarita" ini berlangsung selama dua hari, di Hotel Premier Ambon (Jumat, 16/1/2025) dan Desa Kailolo, Pulau Haruku (Sabtu, 17/1/2026).


Kehadiran para sesepuh di antara pemuda ini menjadi angin segar membangun kembali relasi yang sempat retak guna merawat dan menghargai perbedaan demi mewujudkan Maluku yang lebih baik.


Pada kesempatan itu Raja Faan Patris Renwarin menekankan sejarah yang menjadi penutur kedamaian untuk kelompok yang bertikai. Menurut Raja Renwarin, Kei, Kailolo, dan Seram Bagian Timur memiliki riwayat sejarah yang saling berkaitan.


"Mari kita tunjukkan hidup orang basudara dalam perilaku kita. Itu warisan leluhur kita yang patut kita jaga dan wariskan kepada keturunan kita," tutur Patris Renwarin dalam sambutannya.


Sementara itu Raja Kailolo, Haruku, Haji M. Ali Ohorela, mengajak pemuda Kaililo, Kei, dan SBT untuk bersama-sama menjaga tali silaturahmi sebaik mungkin demi membangun Maluku.


Pada kesempatan ini para korban pertikaian diberi santunan oleh Ketua Umum FPMM Umar Kei Ohoitenan. Umar Kei adalah sosok yang intens mengkampanyekan perdamaian, mengajak para pemuda menapak tilas sejarah panjang sehingga bisa menjadi peneduh saat menghadapi persoalan.


"Rekonsiliasi yang lahir dari adat dan hubungan kekeluargaan merupakan dasar kuat dalam menjaga perdamaian. Ini warisan yang harus kita jaga," tutur Umar di hadapan para pemuda.


Diskusi ini melahirkan 9 pokok ikrar yang dibacakan oleh Raja Negeri Urun, Seram Bagian Timur dan ditandatangani seluruh perwakilan yang hadir.


Pada poin pertama ikrar bersama itu berbunyi: "Kita menegaskan bahwa kita semua adalah orang basudara, satu gandong, satu rasa, terikat dalam hidup orang Maluku, saling hormat-menghormati dan sayang-menyayangi."


Diakhir pertemuan, Umar Kei mengajak para pemuda untuk saling bersalaman dan berangkulan. Sementara itu lagu "Gandong" dilantunkan dengan indah oleh penyanyi Chaken Supusepa.


Pertemuan kedua berlangsung di Negeri Kailolo, Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah, Sabtu (17/1/2026). Para raja dan pemuka adat dari Kailolo, Kepulauan Kei, dan Seram Bagian Timur (SBT) hadir dalam satu forum.


Inisiator pertemuan dan rekonsiliasi, Umar Kei Ohoitenan, mengatakan, Kailolo memiliki posisi penting dalam sejarah persaudaraan orang Maluku.


Ketua Umum FPMM itu mengatakan, Kailolo adalah titik temu yang menentukan ikatan kekeluargaan lintas pulau dan wilayah.


"Ketika hati dan perasaan kita menyatu sebagai saudara, perbedaan apa pun dapat diselesaikan. Nilai adat orang Maluku adalah duduk bersama, makan bersama, lalu saling menjaga," tutur Umar.


Kepedulian Umar Kei Ohoitenan kepada persaudaraan dan persatuan anak-anak Maluku lintas perbedaan agama dan suku sudah dia bangun dari hari ke hari dalam Front Pemuda Muslim Maluku di Jabodetabek dan beberapa provinsi lainnya.


Lewat pelbagai program FPMM, H. Umar Kei Ohoitenan mengkampanyekan perdamaian dan kepedulian sosial, terutama terhadap kaum kecil yang membutuhkan pertolongan.


Umar juga membangun kerjasama dan jaringan dengan pelbagai pihak baik pemerintah, TNI, Polri, dan pelbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap sesama.


Karena itu sosok nasional asal Kei, Maluku Tenggara ini selalu memberi bantuan kepada pemuda Maluku yang sedang mengalami kesulitan hidup.


Umar Kei Ohoitenan selalu tergerak dan peduli sesama. Gerakan hati nan sosial itu berakar pada iman Islamnya yang kuat. Sesibuk apapun, Umar tak pernah tinggalkan sholat. Sementara itu, kenangan masa kecil bersama ibunya, Hajah Ar-Romlah dan nasehat sang ibu selalu menggerak hatinya untuk bersolider dan bersilaturahmi dengan sesama, siapa pun dia.


Kepada kaum muda Maluku, Umar selalu berpesan agar rajin bekerja dan tak melupakan Tuhan dalam hidup. Selain itu, rela berkorban. "Harta itu mudah dicari, tapi carilah sesama untuk menjadi teman. Tuhan akan membantu," nasehat Umar kepada anggota FPMM.








Editor : Alfrets Maurits 

 Reporter : Rika




Komentar

Tampilkan

Terkini