
BIAK NUMFOR TIMURPOS.COM – Sebuah ironi menyedihkan terjadi di Distrik Andey, Kabupaten Biak Numfor, di mana pagar gereja GKI Eden Wonabraidi telah terbengkalai selama lebih dari satu dekade. Selama 11 tahun, jemaat hanya bisa berdoa di balik batas tanah yang tak berpagar, menunggu realisasi bantuan yang tak kunjung datang dari pihak manapun. Kini, ketabahan itu mencapai titik didih; warga jemaat memutuskan untuk tidak lagi menunggu uluran tangan pemerintah yang lambat, melainkan bergotong-royong menggunakan dana swadaya murni demi membangun pagar tersebut, meski dengan keterbatasan finansial yang sangat berat
Langkah nekat namun mulia ini diambil karena rasa memiliki terhadap rumah ibadah yang sudah lama menjadi prioritas utama namun terabaikan oleh program pembangunan daerah. Ketua Jemaat GKI Eden Wonabraidi menegaskan bahwa semangat warga adalah modal utama, namun dukungan teknis dan material dari instansi terkait tetap menjadi kebutuhan mendesak yang tidak bisa ditutupi oleh semangat semata.
- Keterlambatan Infrastruktur 11 Tahun: Pagar gereja GKI Eden Wonabraidi di Klasis Biak Utara, Distrik Andey, telah terbengkalai selama 11 tahun tanpa ada realisasi bantuan konkret dari pemerintah maupun pihak eksternal lainnya
- Realisasi Dana Hibah Pemda Masih Nol Persen: Dana hibah yang dijanjikan oleh Bagian Kesra Pemerintah Daerah (Pemda) hingga saat ini masih berada di angka 0 persen, membuktikan lambatnya birokrasi dalam merespons kebutuhan fasilitas umum di tingkat klasis
- Dukungan Nyata Dua Kepala Kampung: Sebagai kontras dari janji pemda, Pemerintah Kampung Dasdo melalui Bapak Daut Yahya Burako dan Pemerintah Kampung Wonabraidi melalui Bapak Sedekia Miosido telah mencairkan dana hibah masing-masing sebesar Rp5 juta, sehingga total terkumpul Rp10 juta sebagai modal awal pembangunan
- Inisiatif Swadaya Warga Jemaat: Karena lelah menunggu, warga jemaat kini bertekad bulat untuk membangun pagar tersebut menggunakan dana mandiri (dana jemaat) sebagai bentuk tanggung jawab moral terhadap rumah ibadah mereka
- Keterbatasan Dana vs Semangat Tinggi: Meskipun dana yang terkumpul dari iuran jemaat dan hibah kampung belum mencukupi total biaya konstruksi, tekad dan semangat gotong royong warga menjadi penggerak utama agar proyek ini segera terealisasi
- Desakan Dukungan Dinas PU dan DPRK: Jemaat secara terbuka menyatakan perlunya dukungan nyata dari Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Biak Numfor dan DPRK Biak Numfor untuk menutup kekurangan anggaran, mengingat status gereja sebagai fasilitas umum yang melayani ratusan warga Distrik Andey
- Ultimatum Keadilan Pembangunan: Kasus ini menjadi barometer keseriusan pemerintah daerah dalam pemerataan infrastruktur; jika pagar gereja saja butuh 11 tahun untuk dibangun secara swadaya dengan dukungan hanya dari tingkat kampung, bagaimana dengan fasilitas vital lainnya di pedalaman Biak?
Kepada Pemkab Biak Numfor, DPRK, dan Dinas PU:
Silakan lihat ke Distrik Andey! Selama 11 tahun, kalian membiarkan rumah ibadah ini terbuka tanpa pelindung, sementara dana hibah Bagian Kesra masih menguap di angka 0 persen. Ini bukan lagi soal "kurang anggaran", ini adalah soal prioritas dan empati. Jangan biarkan slogan "pembangunan merata" hanya menjadi bahan kampanye pemilu
Dinas PU Biak Numfor, hadirilah lokasi ini. Ukur kebutuhannya, hitung kekurangannya, dan tutup celah antara "semangat warga" dengan "realitas beton". DPRK Biak Numfor, gunakan fungsi pengawasan kalian. Jika ada pos anggaran yang mangkrak di Distrik Andey, pertanggungjawabkan di depan publik
Warga GKI Eden Wonabraidi sudah membuktikan bahwa mereka bisa mandiri. Sekarang giliran pemerintah membuktikan bahwa mereka peduli. Jangan tunggu sampai pagar itu roboh dimakan usia atau rusak karena kelalaian, baru kemudian kalian datang dengan kamera dan pita peresmian. Bangun sekarang, atau akui bahwa janji pembangunan kalian hanyalah ilusi belaka! Ucapan Terima Kasih Khusus dari ( Pdt. Ferdinand Wonar, S.Th )
Bapak Pendeta Ferdinand Wonar, S.Th., selaku pendeta jemaat GKI Eden Wonabraidi, menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus dan mendalam kepada Pemerintah Kampung Dasdo (Bapak Daut Yahya Burako) dan Pemerintah Kampung Wonabraidi (Bapak Sedekia Miosido). Beliau menegaskan bahwa bantuan dana hibah sebesar Rp10 juta dari kedua kampung ini bukan sekadar nominal materi, melainkan wujud kehadiran pemimpin yang benar-benar merasakan denyut nadi kehidupan umatnya
"Terima kasih kepada Bapak Daut Yahya Burako dan Bapak Sedekia Miosido yang telah berkenan membantu pembuatan pagar gereja melalui dana hibah. Di saat janji-janji besar dari atas masih sebatas wacana, dukungan nyata dari kepala kampung inilah yang menjadi oase bagi jemaat kami. Ini adalah teladan kepemimpinan yang memanusiakan manusia dan menghargai nilai-nilai spiritualitas masyarakat," ujar Pdt. Ferdinand Wonar, S.Th.
Beliau juga mengapresiasi semangat swadaya seluruh jemaat yang tidak pernah putus asa, serta berharap agar sinergi positif antara gereja dan pemerintah kampung ini dapat terus dipelihara sebagai fondasi pembangunan yang berkelanjutan di Distrik Andey.
Editor : Farli Ponomban S.Th
Reporter : Jhon Lisyard Mandibo

