• Jelajahi

    Copyright © TIMURPOS.COM| Mengabarkan Fakta
    Pembuat Website

    Iklan

    Follow us

    Anak kasar, Suka Bully, Berbohong dan mengarang Cerita

    Rabu, 08 Juli 2026, 12:40 WIB Last Updated 2026-07-08T04:45:17Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini

    Ciri Khas Anak -Fabulator-Mitosomania-School Bully

    SARMI PAPUA TIMURPOS.COM -
    Anak Kasar, Suka Bully, Berbohong Dan Mengarang Cerita: Ini Penyebab Dan Cara Tepat Menanganinya!. 
    Rabu ( 08/07/2026 ).

     

    Perilaku marah, bersikap kasar, suka membully, berbohong hingga mengarang cerita pada anak sering dianggap sebagai tanda kenakalan atau masalah serius. Namun dalam pandangan psikologi perkembangan, hal ini sebenarnya adalah tahapan yang lumrah terjadi, terutama pada rentang usia 3 hingga 10 tahun. Perilaku ini bukan berarti anak secara otomatis berkarakter buruk, melainkan menjadi cerminan dari kondisi emosi, kebutuhan yang belum terpenuhi, serta proses pematangan fungsi otaknya. Cara kita meresponsnya di masa ini akan menjadi penentu apakah perilaku tersebut tersaring menjadi hal yang baik atau justru terbawa hingga dewasa.

     

    Sikap suka marah dan bersikap kasar pada anak memiliki latar belakang yang jelas dan dapat dipahami. Hal ini dapat muncul karena kemampuan otak untuk mengendalikan emosi dan perilaku belum matang sempurna, terutama pada usia dini. Selain itu, kebutuhan dasar seperti istirahat, makan, dan kenyamanan yang tidak terpenuhi juga memicu reaksi emosional. Sikap ini bisa menjadi cara anak untuk menarik perhatian, meluapkan rasa frustasi karena merasa tidak mampu atau tidak didengar, serta hasil meniru lingkungan sekitar, baik dari keluarga, sekolah, maupun tontonan yang dilihatnya.


    Demikian pula dengan kebiasaan berbohong dan mengarang cerita memiliki alasan psikologis yang beragam. Anak sering melakukannya karena rasa takut mendapatkan hukuman atau teguran keras. Pada usia 3 hingga 7 tahun, hal ini juga bisa terjadi karena dunia imajinasinya sangat aktif dan belum dapat membedakan secara tegas antara kenyataan dan khayalan. Ada pula yang melakukannya untuk mendapatkan pengakuan agar dianggap hebat, merasa memiliki kendali atas situasi, atau sekadar meniru kebiasaan yang terlihat di lingkungan tempat tinggalnya. Jika perilaku ini dibiarkan tanpa arahan, maka bisa berkembang menjadi sikap kasar hingga cenderung membully orang lain.


    Terdapat tiga motif utama yang melandasi kebiasaan mengarang cerita dan berbohong pada anak. Pertama adalah bentuk ekspresi imajinasi, di mana anak hanya sedang melatih daya pikirnya dan benar-benar meyakini ceritanya sendiri tanpa niat menipu. Kedua adalah mekanisme pertahanan diri, dilakukan untuk menghindari hukuman atau teguran. Ketiga adalah cara mencari perhatian dan pengakuan, ketika anak merasa kurang diperhatikan atau ingin menaikkan citra dirinya di hadapan orang lain. Keempat adalah upaya mengatur situasi agar berjalan sesuai keinginannya.


    Pemicu perilaku ini juga dapat berbeda antara lingkungan rumah dan lingkungan sekolah. Di rumah, hal ini sering dipicu oleh rasa takut mendapatkan hukuman, kurangnya perhatian dari orang tua yang sibuk, atau aturan yang terlalu kaku tanpa memberikan ruang untuk berbuat salah. Sedangkan di sekolah, muncul karena tekanan untuk diterima oleh teman sebaya, meniru kebiasaan kelompok, atau menghindari konsekuensi dari tugas dan kewajiban yang tidak terselesaikan.


    Dalam menangani hal ini, pendekatan yang tepat sangat diperlukan agar tidak menimbulkan dampak buruk bagi perkembangan kepribadian anak. Langkah awal yang harus dipegang adalah tetap bersikap tenang dan tidak langsung memberikan vonis negatif seperti menyebut anak sebagai pembohong atau anak nakal. Sebaiknya pisahkan antara perilaku yang salah dengan nilai diri anak, sampaikan bahwa perbuatannya tidak benar namun kasih sayang orang tua tetap utuh. Selidiki penyebabnya dengan nada bertanya yang penuh rasa ingin tahu, bukan seperti sedang menginterogasi, lalu ajak anak bersama-sama mencari jalan keluarnya.


    Strategi jangka panjang harus diterapkan secara konsisten agar perubahan perilaku dapat bertahan. Bangunlah suasana yang aman di mana anak merasa tidak perlu takut saat berbuat kesalahan, sehingga ia berani berkata jujur. Berikan wadah yang positif untuk menyalurkan imajinasinya melalui kegiatan seni, membaca, atau bercerita. Jadikan diri sendiri sebagai teladan dalam bersikap jujur dan mengendalikan emosi. Berikan apresiasi setiap kali anak berani berkata jujur meskipun itu sulit dilakukan, serta jalin kerja sama yang baik antara pihak keluarga dan sekolah agar arahan yang diberikan sejalan.

     

    Orang tua dan pendidik juga perlu waspada dan segera berkonsultasi dengan tenaga profesional jika perilaku ini terjadi secara berlebihan. Hal ini perlu dilakukan jika anak sudah berusia di atas 8 tahun namun tetap tidak mampu membedakan kenyataan dan kebohongan, jika disertai dengan tindakan lain seperti mencuri, menyakiti diri sendiri atau orang lain, serta jika kebiasaan berbohong berlangsung terus-menerus meskipun sudah diberi pengertian dan bimbingan. Pada dasarnya, sikap marah, berbohong, atau mengarang cerita adalah bahasa yang digunakan anak untuk menyampaikan apa yang dirasakan. Tugas kita adalah memahami makna di balik perilaku tersebut, bukan sekadar menghukumnya.


    Sebagai gambaran cara berkomunikasi yang tepat, berikut contoh dialog yang dapat diterapkan:

     

    Orang tua/Guru: “Nak, tadi kamu cerita sedang membaca buku, tapi kenyataannya buku itu masih tertutup di meja. Cerita itu tidak sesuai dengan apa yang terjadi ya. Ibu/Ayah tetap sayang kamu apa adanya. Sekarang, boleh ceritakan apa yang sebenarnya terjadi? Kita selesaikan bersama-sama.”

     

     

    Reporter        : YT. Soemardi

    Editor             : Farli Ponomban S.Th

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini