JAYAPURA, TIMURPOS.COM – Pernahkah Anda melihat seorang anak menangis karena hal yang dianggap sepele, menolak berbicara dengan orang baru, atau tiba-tiba mengamuk saat keinginannya tidak terpenuhi? Bagi sebagian orang, perilaku tersebut mungkin dianggap sebagai bentuk kenakalan. Namun, menurut ilmu psikologi perkembangan, setiap perilaku anak sebenarnya menyimpan pesan yang perlu dipahami oleh orang dewasa.
Anak-anak memiliki cara berpikir, merasakan, dan bereaksi yang berbeda dengan orang dewasa. Dunia mereka dipenuhi imajinasi, rasa ingin tahu, serta proses belajar memahami emosi yang masih berkembang. Tidak heran jika mereka sering membayangkan diri sebagai pahlawan super atau tokoh favorit. Imajinasi tersebut merupakan bagian penting dari proses tumbuh kembang yang sehat.
Psikolog perkembangan menjelaskan bahwa setiap tahapan usia memiliki kebutuhan yang berbeda. Pada usia dini, anak belajar melalui sentuhan, permainan, dan pengalaman langsung. Seiring bertambahnya usia, mereka mulai belajar berpikir logis, membangun persahabatan, hingga mencari jati diri saat memasuki masa remaja.
Kesalahan yang masih sering terjadi adalah memberi label negatif kepada anak, seperti "nakal", "cengeng", atau "keras kepala". Padahal, perilaku tersebut sering kali merupakan cara anak menyampaikan kebutuhan yang belum mampu diungkapkan melalui kata-kata. Anak yang mudah marah bisa saja sedang kelelahan, lapar, atau kesulitan mengelola emosinya.
Tantrum menjadi salah satu perilaku yang paling sering disalahartikan. Dalam banyak kasus, tantrum bukan sekadar upaya mencari perhatian, melainkan tanda bahwa anak sedang kewalahan menghadapi emosinya. Karena itu, orang tua dianjurkan tetap tenang, menemani anak hingga emosinya mereda, kemudian memberikan penjelasan dan arahan setelah ia kembali tenang.
Pendekatan yang penuh empati dinilai lebih efektif dibandingkan bentakan atau hukuman. Memvalidasi perasaan anak, memberikan pilihan sederhana, serta menjadi teladan dalam mengelola emosi merupakan langkah penting untuk membantu anak belajar mengendalikan dirinya.
Meski demikian, orang tua tetap perlu waspada apabila perilaku anak berlangsung terus-menerus dan mengganggu aktivitas sehari-hari, seperti sering menyakiti diri sendiri atau orang lain, menarik diri dari lingkungan dalam waktu lama, atau mengalami keterlambatan perkembangan.
Dalam kondisi tersebut, konsultasi dengan psikolog anak atau dokter spesialis anak sangat dianjurkan agar mendapatkan penanganan yang tepat.
Pada akhirnya, anak bukan sekadar sosok yang lucu atau menggemaskan. Di balik setiap senyuman, tangisan, kemarahan, maupun sikap diamnya, terdapat proses perkembangan otak dan emosi yang sedang berlangsung.
Memahami mereka bukan berarti memanjakan, melainkan mendampingi agar tumbuh menjadi pribadi yang sehat, percaya diri, dan mampu menghadapi tantangan kehidupan di masa depan.
Editor; Rosmawati
Reporter: Sumardi

