Iklan

Follow us

2.000 Hektar Sawah Dibuka di Tanah Adat Mawesday, Warga Sarmi: Warisan Leluhur Kini Jadi Lumbung Pangan Masa Depan

Senin, 15 Juni 2026, 14:27 WIB Last Updated 2026-06-15T06:35:26Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini

KABUPTAEN SARMI, TIMURPOS.COM -- Tanah bukan sekadar hamparan daratan, melainkan warisan suci yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Kampung Mawesday, Distrik Bonggo Timur, Kabupaten Sarmi. 


Di bawah kepemimpinan Kepala Kampung Silas Pilemon Singgum, wilayah ini kini mulai dikembangkan melalui program cetak sawah seluas 2.000 hektar yang digagas Pemerintah Pusat lewat Kementerian Pertanian.

 

Program ini dijalankan dengan berpegang teguh pada kearifan lokal: “Ining bat, Ninsi bor Kenan, inimo esar-esar bokonen banen nanteno kenata”, yang bermakna tanah adalah warisan nenek moyang yang harus dijaga dan dikelola dengan baik agar terus memberi manfaat bagi generasi sekarang dan mendatang.

 

Menurut Kepala Kampung Silas Pilemon Singgum, tanah merupakan identitas dan hak ulayat sekaligus sumber kehidupan utama warga. Kehadiran program ini dinilai sangat memberkati masyarakat adat, yang selama ini mengandalkan hasil laut seperti ikan, udang, kepiting, dan kerang. Kini terbuka peluang ekonomi baru yang akan mendongkrak kesejahteraan warga.

 

“Kami sangat menyambut baik program ini. Ini bukti perhatian nyata pemerintah. Tanah kami subur tapi belum dimanfaatkan maksimal, dan kami siap mendukung seluruh prosesnya,” tegasnya, Senin (15/6/2026).

 

Sementara itu, Tokoh Adat menyatakan persetujuannya dengan syarat pelaksanaan tetap menghormati aturan adat dan hak ulayat. “Jika dijaga baik, lahan ini akan terus memberi rezeki tak terputus untuk anak cucu kita,” ujarnya.

 

Tokoh Masyarakat juga menyambut gembira. “Selama ini kami hanya menggarap lahan sempit. Dengan bimbingan pemerintah, kami yakin hasil panen akan melimpah dan kehidupan menjadi lebih layak,” katanya.

 

Diharapkan ke depannya, lahan seluas 2.000 hektar ini benar-benar menjadi lumbung pangan andalan yang memenuhi kebutuhan pangan sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat adat. Program ini berjalan berkat sinergi antara Kementerian Pertanian, Pemerintah Kampung, Tokoh Adat, dan Tokoh Masyarakat.

 

Tanah leluhur adalah amanah. Keberhasilan program ini membuktikan pembangunan dapat berjalan selaras dengan nilai adat. Dengan semangat menjaga warisan tersebut, Kampung Mawesday akan menjadi lumbung pangan yang mandiri dan sejahtera untuk masa depan.


Editor: Rosmawati

Reporter: Farli Ponomban S.Th


 

 

Komentar

Tampilkan

Terkini