• Jelajahi

    Copyright © TIMURPOS.COM| Mengabarkan Fakta
    Pembuat Website

    Iklan

    Follow us

    Hai pemerintah daerah kabupaten sarmi, dimana Mata-Hati kalian?.

    Rabu, 08 Juli 2026, 17:17 WIB Last Updated 2026-07-08T11:32:39Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini

    Masih Jauh dari kata Hidup Sehat, Apa lagi Sejahtera Sangat Jurang🥹

    SARMI PAPUA TIMURPOS.COM –
    Kekeringan Melanda, Kolam Genangan Hingga Tong Penampung Air Hujan Mengering, Sayangnya Hingga Hari ini Belum Ada Perhatian Khusus Dari Pemerintah Daerah Soal Air Bersih di Kampung Mawesday, 
    Rabu (8/7/2026).

     

    Musim kemarau yang panjang melanda Kampung Mawesday Sehingga membawa penderitaan berlipat bagi warga Kampung Mawesday. Bukan hanya tong dan tangki penampungan air hujan yang telah kosong, kolam‑kolam penampungan alami yang selama ini menjadi tumpuan utama pun ikut menyusut drastis hingga hampir mengering. Ironisnya, di tengah kesulitan yang terulang setiap tahun ini, belum terlihat perhatian khusus maupun penanganan nyata dari Pemerintah Daerah Kabupaten Sarmi guna menyediakan akses air bersih yang layak dan berkelanjutan bagi masyarakat setempat

     

    Kolam‑kolam berisi air alami yang tersebar di sekitar pemukiman dan kebun kini terlihat dangkal, berisi air keruh berwarna kecokelatan, serta tertutup tumpukan daun kering dan kotoran alam. Sumber yang dulunya cukup untuk memenuhi kebutuhan harian saat musim kering kini tidak lagi memadai dan tidak layak dikonsumsi secara langsung, sehingga memberikan pilihan bagi warga dalam mencari persediaan air

     

    Tampak Seorang Ibu Janda Sedang Menimbah Sisa² air di tong Tempat penampungan air hujan guna Untuk Memasak/Minum.

    Tong
    dan tangki penampungan air hujan yang diandalkan sebagai cadangan juga sudah habis isinya setelah digunakan secara sangat hemat selama beberapa waktu. Meskipun telah dimanfaatkan sebaik mungkin, kapasitasnya yang terbatas tidak mampu bertahan menghadapi musim kemarau yang berlangsung lebih lama dari biasanya, sehingga warga kehabisan alternatif sumber air yang aman

     

    Akibatnya, warga terjebak dalam kesulitan nyata dan terpaksa menempuh jarak yang lebih jauh untuk mencari sumber air lain, mengeluarkan tenaga, waktu, dan biaya tambahan yang cukup memberatkan. Setiap tetes air yang didapat harus diatur secara ketat penggunaannya untuk kebutuhan paling mendasar, bahkan kebersihan diri dan lingkungan harus dikurangi karena keterbatasan yang ada

     

    Kondisi ini menimbulkan risiko kesehatan yang mengkhawatirkan, mengingat udara yang masih bisa dijangkau kualitasnya tidak terjamin kebersihannya. Selain itu, kebutuhan air untuk pertanian dan pemeliharaan ternak juga meningkat, yang secara langsung berdampak pada ketahanan pangan dan pendapatan keluarga sehari‑hari. kelancaran ini terus berulang setiap tahun tanpa ada solusi jangka panjang yang diterapkan

     

    Yang semakin menjadi sorotan adalah belum adanya perhatian khusus dan tindak lanjut nyata dari Pemerintah Daerah Kabupaten Sarmi terkait penyediaan air bersih di wilayah ini. Hingga saat ini belum terlihat upaya pengeboran sumur dalam, pembangunan jaringan distribusi, atau bantuan pelindung yang cukup mumpuni. Padahal air bersih adalah kebutuhan dasar dan hak setiap warga negara yang seharusnya menjadi prioritas utama

     

    Masyarakat tetap mempertahankan semangat gotong royong dan saling berbagi apa yang masih dimiliki, namun upaya ini hanya bersifat sementara dan tidak mampu mengatasi akar permasalahan. Warga berharap pemerintah daerah segera mendengar keluhan ini dan mengambil langkah konkret, agar kesulitan yang dialami tidak terus berulang dan menjadi beban setiap kali musim kemarau tiba

     

    Situasi di Kampung Mawesday adalah bukti nyata bahwa tanpa perencanaan dan penanganan yang serius, masalah air bersih akan terus menjadi hambatan utama bagi peningkatan kesejahteraan warga. Sudah saatnya perhatian khusus diberikan agar warga tidak lagi terjebak dalam kekeringan yang menyiksa setiap tahunnya

      


    Reporter: Farli Ponomban S.Th

    Editor: Farli Ponomban S.Th

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini